Sabtu, 15 Juni 2013

Melayang ala Mborira ke Wakatobi mencari Pujaan hati.


Mborira dan Sunset di puncak Tomia
Mborira, berasal dari kata Mboriranga yang memiliki arti Kuiramba atau burung layang-layang. Mborira adalah sebuah tari dari Tomia, Wakatobi yang biasanya di tarikan oleh 7 orang gadis dan 2 orang pria. Biasanya tari-tarian ini di pentaskan untuk menghibur para perantau yang sedang mudik atau pulang kampung. Keluarga para perantau ini biasanya mengundang gadis-gadis untuk menari Mborira. Pementasan tarian ini di kultuskan untuk para perjaka yang lagi pulang kampung untuk menemukan pujaan hatinya.

Tarian ini biasanya di awali dengan gerakan lemah gemulai yang lambat laun akan membentuk formasi kawanan burung layang-layang. Pada saat itulah datang burung Kuiramba yang biasanya di lakonkan oleh dua orang penari pria yang sedang ngiwi atau merayu ketujuh penari itu sebagai simbol mereka sedang merayu para gadis itu untuk menjadi pesangan hidupnya. Kisah di balik tarian Mborira ternyata berawal dari kebiasaan burung layang-layang yang notabene adalah burung kepulauan yang sedang bermigrasi dengan pergantian musim timur dan musim barat, kisah ini lah yang diambil sebagai simbol kembalinya para perantau dari tanah Melayu.

Menarilah kawan
Menikmati tari tarian di sebuah perhelatan dalam gedung maupun di sanggar sudah biasa sekali di lakukan. Namun akan berbeda ketika tari-tarian itu di tarikan pada sebuah puncak yang konon katanya berasal dari dasar lautan. Yah Puncak Tomia, dulu puncak ini katanya adalah sebuah dasar lautan. Kalau di tilik dari keberadaan fosil-fosil kulit kerang besar seperti kima di puncak ini mungkin benar juga, jadi dasar laut ini naik ke atas permukaan karena pergeseran kulit bumi.

Petang di Puncak Tomia
Puncak Tomia adalah spot yang bagus untuk menikmati matahari terbenam. Langit yang tadinya cerah berwarna biru kemudian berubah menjadi ungu, kemerahan hingga orange. Sungguh pesona alam yang maha sempurna. Nah di kesempurnaan alam itu tarian Mborira di bawakan oleh beberapa muda-mudi Tomia. Alunan tabuhan gendang yang menjadi musik pengiring seolah syahdu sekali diantara sepoi-sepoinya angin yang berhembus di puncak Tomia ini.

Puncak Tomia yang serih juga di sebut Puncak Kahyangan
Petang telah berlalu, yang ada hanya gelapnya langit dengan hembusan angina yang mulai kencang. Tapi begitu melihat kelangit, bintang mulai bertaburan menghiasi angkasa raya. Belum selesai rasa syukur saya atas nikmat petang dan Mborira yang syahdu, muncul lai sebuah keindahan baru di tengah kegelapan malam puncak Tomia. Sungguh anugrah yang luar biasa sekali.

Sebuah Budaya Nusantara yang kembali membuat saya bangga telah lahir di negeri ini. Negeri yang kaya akan budaya dan nilai-nilai luhur. Negeri yang kaya akan ragam tradisi, Negeri yang dibentuk dari rupa-rupa adat dan kultur. Semoga tidak ada tangan-tangan jahil yang mengusik itu semua. Semoga kedamaian senantiasa terjaga di negeri yang serba multi ini.

Dasar Laut yang jadi puncak Tomia. Banyak fosil Kima (kerang besar)

Kamis, 13 Juni 2013

Berperang ala Tari Eja-eja di Wakatobi


Tari Eja-eja atau Tari Perang
Wakatobi adalah surga bagi para penggemar wisata bahari. Banyak sekali titik penyelaman nan indah di pulau yang namanya diambil dari singkatan dari 4 pulau besarnya ini. Pertama kali mendengar nama Wakatobi pasti orang yang masih asing dengan dearah itu akan menganggap namanya mirip sekali dengan kosakata Jepang. Namun setelah tahu ternyata Wakatobi adalah singkatan dari 4 pulau besar Wangi-wangi, KAledupa, TOmia dan BInongko, pasti kita akan senyum-senyum sendiri. Kreatif sekali orang yang pertama kali menemukan nama Waktobi ini.

Hampir 90 persen spesies karang laut dunia ada di Taman Nasional Wakatobi. Jadi dah kebayang kan betapa indahnya kehidupan bawah laut nya Wakatobi. Sampai-sampai ada pepatah kalau ke Wakatobi tidak mencicipi dunia bawah lautnya rasanya kurang Afdhol.

Di pinggir pantai yang indah
Namun saya justru tidak akan bahas pesona bawah lautnya Wakatobi, mungkin lain kali. Saya justru tertarik dengan wisata budaya (culture tourism) yang di tawarkan kabupaten yang  memisahkan diri dari kabupaten Buton pada tahun 2003 dan menjadi kabupaten sendiri ini. Banyak sekali ragam budaya yang menarik perhatian saya. Saya ambil salah satu dulu ya, sebut saja Tarian Eja-Eja. Tari Eja-eja sejatinya adalah tari perang. “tari eja-eja ini hanya ada di Tomia lho mas” kata pak Arwin dan saya tertarik bertanya balik ke beliau, lelaki paruh baya warga Tomia yang menemani saya waktu berpetualang di Tomia. “kenapa tari eja-eja hanya ada di Tomia, ya karena dulu hanya masyarakat Tomia yang gemar sekali berperang”

Berperang di saat Matahari Terbit
Namun tarian ini tidak terlalu banyak di ketahui masyarakat luar. Ketenarannya masih kalah di bandingkan dengan Tarian Lariangi dari Kaledupa yang konon katanya memang tarian jaman kerajaan Buton. Namun Tarian ini menggelitik indra penglihatan saya karena di tarikan oleh 20 murid sd pada saat matahari terbit dan di pinggir pantai yang indah. Nyiur-nyiur kelapa melambai-lambai seolah ikut manarikan semangat perang dari tarian ini sendiri. Sementara itu mentari pagi juga memancarkan cahaya hangatnya, menghangatkan peperangan kecil yang sedang terjadi di pantai pagi buta itu.

Sungguh pengalaman luar biasa sekali bisa menyaksikan satu dari beribu kebudayaan Nusantara yang butuh uluran tangan kita untuk melestarikannya.  Semoga semangat bocah-bocah kecil ini menarikan tari Eja-eja juga akan tetap terpatri dalam sanubari mereka, hingga suatu saat mereka merasa bangga bisa lahir di negeri yang punya berjuta kebudayaan ini. Semoga.

Foto Bersama mereka dulu

Rabu, 12 Juni 2013

ketika hujan tiba...

Ketika sedang hunting keluar daerah jauh-jauh  ternyata sampai dilokasi Hujan. Punya rasa jengkel pasti hal wajar lah. Tapi rubahlah rasa jengkel itu menjadi sebuah keasikan. Nikmati hawa dingin hujan, capture lah beberapa shoot tentang hujan nya itu sendiri. Sisa-sisa air hujan yang tertahan di dedaunan kalau  di macro juga bisa memperlihatkan sisi lain dari hujan itu sendiri. Saya selalu suka hujan. Memandang air yang tumpah dari langit itu seolah memberikan subuah romansa tersendiri. Dan menurut saya Hujan itu selalu romantis.

Berikut yang saya alami ketika sedang ke berkunjung ken Benteng Roterdam di Sulawesi Selatan dan begitu sampai lokasi ternyata hujan mengguyur Benteng keren tersebut. Modal payung dan Lensa Sigma 150mm F2.8 APO MACRO DG HSM. Karena Traveling itu adalah proses perjalanan nya itu sendiri.





2013 MEDIA GATHERING, Garansindo’s Automotive Lifestyle Updates 2013


Presentasi dari PT Garansindo Inter Global
Bertempat di sebuah restoran dan bar yang berlokasi di kawasan elit ibu kota, sebuah event digelar. 2013 MEDIA GATHERING, Garansindo’s Automotive Lifestyle Updates 2013 begitulah Judul Event ini. Beberapa perwakilan dari media hadir dalam acara yang sudah menjadi salah satu kegiatan rutin dari PT Garansindo Inter Global (GIG). Cisca sang SeniorManager marketing sibuk menghampiri tamu-tamu yang hadir.

Menariknya ternyata bukan hanya media yang di undang, Ada beberapa Bloger sahabat-sahabat saya juga ikut duduk manis di deretan kursi-kursi yang sudah di susun rapi disana. Petang itu beberapa pembesar dari PT GIG masing-masing menyampaikan updates yang terjadi seiring dengan makin pesatnya dunia otomotif global, dan di tanah air pada khususnya.