Jumat, 24 Juni 2011
Indahnya alam bawah laut Indonesia
Mengabadikan keindahan alam bawah laut ternyata tidak semudah yang saya bayangkan, harus di butuhkan sedikit tehnik snorkeling serta kesabaran yang lumayan tinggi, hal ini saya rasakan ketika hendak mendapatkan footage nemo sedang berenang dengan riangnya diantara sulur-sulur anemon yang melindunginya dari serangan hewan laut lainnya, bahkan terkadang kita harus menyelam untuk mendapatkan angle yang asik untuk di lihat, kendala ombak juga saya rasakan, sedang asik merekam keindahan alam bawah laut pulau Menjangan di Bali, ombak seolah tiada henti-hentinya menerjang, sehingga gambar yang diambil mengalami goncangan yang parah, namun kesemuanya itu tidak menyurutkan semangat belajar saya untuk berusaha mengabadikan setiap sudut tanah pertiwi yang pernah saya pijak dimanapun itu.
Terima kasih buat kang Ayos HFLB dan om Giri Phodeographer sudah berbagi ilmunya buat pemula seperti saya.
Kamis, 23 Juni 2011
Pekanbaru, Membuka lembar kenangan
Tepat pukul 06:00 akhirnya saya menginjak kan kaki lagi di kota kecil Perawang, terlihat sebuah terminal kecil yang dulu waktu saya harus meninggalkan kota kecil ini sedang dalam tahap pembangunan, namun sepertinya sedang ada sepasang mata yang memperhatikan gerak gerik saya, tidak selang bebarapa saat seorang wanita mendekati saya sambil tersenyum manis, “darimana dek?” sebuah pertanyaan terlontar dari mulut wanita paruh baya itu, setelah ku ingat-ingat wajah itu ternyata beliaulah yang menawari saya sirih pinang tadi malam sewaktu bis sedang berhenti sejenak untuk makan malam di sebuah rumah makan. “dari Jakarta bu” begitu saya menjawab dengan balasan senyum yang paling manis yang saya punya, nah pertanyaan kedua yang membuat saya selalu tertawa jika mengingatnya “mau gak jadi suami ketiga saya dek?” waduh, ini mimpi atau ngigau ya, jika yang ngomong begitu Artika saridevi atau Dian sastro akan lain ceritanya, nah ini seorang ibu-ibu dengan anak tiga dari dua suaminya terdahulu, cerita punya cerita kedua suaminya terdahulu meninggal karena kecelakaan semua, saya hanya tersenyum menjawab pertanyaan ibu itu, dan segera berpamitan karena si Mbah seorang sahabat lama saya sudah datang menjemput.
Pulau Menjangan, Surga bawah laut Bali
Di kawasan Taman Nasional Bali Barat terdapatlah sebuah pulau kecil yang dulunya terdapat banyak sekali habitat binatang itu di dalamnya, namun karena kejahilan tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab akhirnya jumlahnya sekarang tinggal sedikit, oleh karena itu pemerintah mulai ambil bagian dengan memasukkan pulau kecil itu ke dalam kawasan Taman Nasional Bali Barat.
Senin, 20 Juni 2011
TOBA, Kesan indah walau sesaat
![]() |
| Komplek Raja Siallagan |
Selasa, 14 Juni 2011
SABANG, kenangan yang tertinggal
![]() |
| Dua moda transportasi menuju pulau WEH |
Minggu, 05 Juni 2011
RUBIAH, antara keindahan dan kesetiaan
Bulan Purnama menyinari kami yang sedang menyeberang dari daratan pulau Weh menuju ke sebuah pulau kecil yang katanya menyimpan bermacam keindahan. Tak selang beberapa saat perahu bermotor yang saya tumpangi pun berlabuh ke sebuah teluk kecil di depan warung makan pulau Rubiah, sudah ada beberapa wisatawan asing yang sedang santai dengan membaca buku, sementara beberapa sahabat saya sudah sibuk dengan perlengkapan masing-masing, Bang Yuli menyambut dengan keramah-tamahan khas Aceh, salah satu sahabat saya sudah mengurus semuanya jadi saya tinggal gabung dengan mereka, disaat baru saja mendarat di pulau kecil itu rasa lapar sudah mendera, mungkin karena sudah waktunya makan malam.
Dalam waktu sekejap menu makanan khas laut yang terhidang pun ludes, acara selanjutnya adalah sesegera mungkin menuju ke rumah Leon, saya tidak tahu kenapa rumah panggung yang menghadap laut ini di sebut rumah Leon, namun jika saya perhatikan memang rumah ini lah yang paling besar diantara rumah-rumah lain yang beberapa diantaranya malah tidak menyediakan fasilitas kamar mandi, ada satu kamar dan sebuah ruangan tamu serta satu kamar mandi, dan yang menarik adalah kamar mandinya tidak berpintu ha ha, beberapa teman wanita saya mulai sibuk dengan hal itu, beberapa peraturan singkat dibuat, jika sedang ada cewek yang mandi semua personil laki-laki wajib berada di luar area dan kain bali di buat sebagai pintu darurat untuk kamar mandi tersebut, namun menggantungkan Hamock di teras rumah sepertinya lebih menggoda untuk kulakukan, dan akhirnya saya semalaman tidur dalam buaian angin laut di dalam hammock.
Dalam waktu sekejap menu makanan khas laut yang terhidang pun ludes, acara selanjutnya adalah sesegera mungkin menuju ke rumah Leon, saya tidak tahu kenapa rumah panggung yang menghadap laut ini di sebut rumah Leon, namun jika saya perhatikan memang rumah ini lah yang paling besar diantara rumah-rumah lain yang beberapa diantaranya malah tidak menyediakan fasilitas kamar mandi, ada satu kamar dan sebuah ruangan tamu serta satu kamar mandi, dan yang menarik adalah kamar mandinya tidak berpintu ha ha, beberapa teman wanita saya mulai sibuk dengan hal itu, beberapa peraturan singkat dibuat, jika sedang ada cewek yang mandi semua personil laki-laki wajib berada di luar area dan kain bali di buat sebagai pintu darurat untuk kamar mandi tersebut, namun menggantungkan Hamock di teras rumah sepertinya lebih menggoda untuk kulakukan, dan akhirnya saya semalaman tidur dalam buaian angin laut di dalam hammock.
![]() |
| Jalanan menuju rumah Leon |
![]() |
| Rumah Leon kami |
Sabtu, 04 Juni 2011
Aceh, Spiritual gateway to Southeast Asia
Menikmati keindahan propinsi palinng barat Indonesia ini memberikan keasikan tersendiri, berpetualang sambil menyelami sedikit dahsyatnya keramahana masyararakat setempat.
Video and Edit by MasTekno (Lostpacker.blogspot.com)
BackSound : The Boy Least Likely To - Faith
BackSound : The Boy Least Likely To - Faith
Jumat, 03 Juni 2011
Pulau Weh dalam sehari, Let's get Lost
-->
Pagi yang cerah itu seolah menggodaku untuk segera mencumbuinya, setelah puas bersnorkling lintas pulau (menyeberang dari Iboih ke pulau Rubiah) ingin rasanya segera mengeliling pulau Weh yang indah ini, sebelum berangkat sempat berpapasan dengan kak Oma si pemilik bungalow, alhasil beliau membuatkan ku kopi aceh yang nikmat itu, dan yang lebih menyenangkan bergelas-gelas kopi itu diberikan kak Oma secara cuma-cuma, alias gratis, wah bahagianya saya saat itu he he.
Iboih dengan pesonanya
-->
Tepat pukul 16:45 kapal Ekspress Bahari 3 yang saya tumpangi bersandar di pelabuhan bebas Balohan, cuaca begitu cerah langit masih biru dan deburan ombak-ombak kecil seolah menyambut kedatangan saya di pulau paling barat negara tercinta ini.
![]() |
| View dari teras bungalow |
Suasana pelabuhan bebas Sabang ini kelihatan ramai sekali, beberapa buruh angkut barang mulai mencari pelanggan, seperti di pelabuhan-pelabuhan lain mereka juga berebut pelanggan, bahkan tidak jarang terlihat saling sikut satu sama lain, sementara itu saya asik berkemas dan bergegas keluar dari kapal, ada yang menepuk pundak saya dari belakang, ternyata si Dan turis dari spanyol yang ku kenal dalam kapal menuju Sabang ini, dia berkelompok dengan beberapa turis lainnya, akhirnya kami sepakat untuk sharing cost sewa mobil menuju Iboih, ah senangnya berpetualang sendiri seperti ini banyak dapat travelmate baru, Dan sudah berkeliling hampir 5 bulan dan ternyata dia hanya berdua bersama temannya dari spanyol, sementara yang lain adalah sesama backpacker yang ketemu selama perjalanan, akhirnya kami bersepakat untuk menyewa mobil, dan karena saya lokal sendiri maka saya di putuskan jadi juru tawar ha ha, dengan sedikit trik akhirnya dapatlah best price dengan supir yang friendly, sebagian diantara kami ada yang stay di Gapang, namun saya lebih tertarik dengan Iboih setelah melihat review dari beberapa teman, dan berkat suggest dari salah satu teman juga bahwa iboih lebih asik.
Kamis, 02 Juni 2011
Aceh sudah tersenyum kembali
![]() |
| Bandara dengan kubah yang indah |
Langganan:
Entri (Atom)







