![]() |
| Batu Berlayar |
Jumat, 23 September 2011
Taman Batu Berlayar
Sexy nya BABI Belitung
![]() |
| Semburat senja |
Kapal pak Nawi yang mengantarkan saya sudah menghilang dari pandangan, seiring dengan menghilangnya deru mesin kapal nya yang cukup memekakkan telinga. Tinggallah saya yang harus mempersiapkan segala hal untuk bermalam di lokasi ini. Setelah survey lokasi maka saya berfikir akan mendirikan tenda di hamparan pasir putih sisi timur pulau Babi. Keputusan ini saya ambil juga dengan pertimbangan dari pak Nawi selaku nelayan setempat yang saya percaya prakiraan cuacanya beliau. Tak selang berapa lama tenda pun sudah berdiri dan makan malam adalah agenda selanjutnya guna menjaga kekebalan tubuh dan sebagai sumber energi untuk menjelajah ke pulau-pulau di Belitung.
![]() |
| Momen yang selalu kurindukan |
Api unggun sudah menyala, langit juga kelihatan cantik sekali berhias bintang dan purnama yang memancarkan cahayanya. Laut juga terlihat tenang sekali, riak-riak ombak kecil sesekali memecah keheningan malam yang indah. Makan malam menu seafood dan segelas kopi kembali menghangatkan malam saya yang indah, sementara di kejauhan tampak perahu-perahu kecil nelayan sedang hilir mudik mencari ikan. Menurut nelayan setempat jika sedang musim purnama seperti ini sedikit sekali ikan yang bisa mereka bawa pulang. Malam semakin larut, setelah mematikan bara api saya bergegas masuk ke dalam tenda untuk beristirahat
Pagi menjelang, rasanya masih malas sekali untuk membuka mata, namun ada suara aneh “kresek-kresek” yang banyak sekali dari luar tenda, ada apakah ini? Otak saya makin dibuat penasaran, setelah mengintip sedikit keluar tenda ternyata bunyi-bunyi tersebut berasal dari puluhan kepitingi-kepiting kecil yang hendak masuk ke dalam tenda, jadi kaki-kaki mereka itulah yang bergesekan dengan alas tenda yg tebuat dari plastik terpal sehingga menimbulkan bunyi-bunyi an. Lucu sekali memperhatikan tingkah polah mereka, tidak tahu kenapa mereka berebutan hendak masuk ke dalam tenda, apa karena ada gembel artis dari jakarta macam saya ini di dalam tenda itu ya? Entahlah ha ha ha.
Semburat merah sang surya sudah menghiasi langit timur, bergegas saya mempersiapkan senjata saya, sebuah kamera butut dengan lensa seadanya untuk merekam keindahan yang ada di depan mata, namun kembali mendung menghalangi keindahan sang surya, kecewa dengan sunrise seperti itu? Tentu tidak karena saya malah bisa asik berenang di pantai dangkal yang bersih di depan tenda, wah rasanya seperti sedang berada di sebuah resort mahal yang menghadap langsung ke laut ha ha.
![]() |
| Jajaran pohon kelapa |
Perut sudah terganjal oleh sarapan dan segelas kopi hitam, saatnya menjelajah pulau. Pulau ini tidak terlalu besar menurut saya, jika menilik dari namanya saya tidak bisa mengambil kesimpulan mengapa pulau ini dinamai pulau Babi, sementara saya juga tidak menemukan binatang yang sexy itu di pulau ini. Mungkin jika di lihat dari udara pulau ini menyerupai seekor babi. Kembali saya di hantui oleh mendung yang menggelayut, kamera juga menjepret seperlunya saja. Saya lebih banyak menikmati sunyinya pulau ini. Bongkahan-bongkahan batu granit raksasa masih menjadi daya tarik pulau, selain pasir pantainya yang putih dan bening tentunya. Deretan pohon-pohon kelapa juga tumbuh di hampir 50 persen vegetasi pulau, sementara di bagian tengah pulau, rimbun dengan hutan kecil dan ilalang-ilalangnya. Sejenak saya berhenti di ujung barat pulau, dari sini saya bisa menikmati indahnya pulau Lengkuas di kejauhan sembari meluruskan kaki karena agak sedikit capek setelah trekking keliling pulau.
![]() |
| Kayaknya seru bermain sampan |
Di sebelah selatan pulau saya kembali terhenyak dengan keindahannya, hamparan pasir putih, di tambah lagi dengan pohon-pohon kelapanya yang meliuk-liuk seolah menarikan sebuah tarian Belitong yang sangat indah. Namun mata saya terusik dengan sebuah perahu kecil nelayan yang tertambat pada sebuah pasak di pantai, ingin sekali meminjam perahu itu untuk bersampan keliling pulau babi yang tenang itu. Namun karena tidak ada orang yang bisa saya pinjami, saya mengurungkan niat untuk bersampan di tenangnya air laut dangkal itu.
Tak terasa waktu sudah menunjukan tengah hari, berarti saya harus segera berkemas karena si bapak nelayan jam 14:00 akan menjemput saya untuk di antarkan ke daratan Belitung lagi. Sebelum sampai Tanjung Kelayang ada sebuah pulau kecil yang jika air sedang pasang semua bagian pulau tertutup air, namun jika surut dia berubah menjadi sebuah pulau kecil yang cantik berhiaskan dengan pasir putih, sebuah taman batu granit raksasa yang menyerupai Layar. Tunggu di liputan selanjutnya ...
Senin, 19 September 2011
Nirwana itu bernama Lengkuas
-->
![]() |
| Old Lighthouse |
Sebuah Mecusuar terlihat tegak berdiri dengan gagahnya, seolah menyimpan banyak sekali cerita masa lalu tentang indahnya Belitung. Air laut juga terlihat sedang surut sehingga kapal tidak bisa merapat ke pingir pantai pulau yang jika mengutip kesan salah seorang sahabat, menyebutnya sebagai pulau Nirwana.
Burung Granit Raksasa di Belitung
-->
Senja sudah menjelang ketika perahu nelayan yang mengantarkan saya merapat di pulau kecil ini, sekilas mata saya berkeliling untuk mengenali suasana yang ada di sekitar. Banyak terlihat pohon kelapa tumbuh subur di pulau ini, sementara sebuah bekas cottage yang berada di pinggir pantai terlihat terbengkalai tidak terawat, tidak tahu karena alasan apa sang pemilik tidak mengelolanya, padahal suasana pulau ini pasti akan terasa lebih nikmat jika di nikmati dari cottage tersebut.
![]() |
| Burung Granit raksasa itu |
Sembari berkeliling mata saya juga mencari lokasi yang cocok untuk mendirikan tenda. Bapak nelayan yang perahunya saya sewa bertutur bahwa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menikmati indahnya pulau-pulau kecil di pesisir pantai indah Belitung, Tapi kalau tidak sekarang akan susah lagi untuk merencanakan perjalanan menyusuri keindahan pulau yang terkenal dengan Laskar Pelangi nya ini.
Minggu, 18 September 2011
KangNong Duta Pariwisata Tangerang
![]() |
| Semua Finalis dan para JURI |
Odalan Pura Agung JagatKartta
Sebagai salah satu pura Agung yang terletak di luar pulau Bali, Pura Agung Jagatkartta setiap tahunnya menggelar Odalan, acara ini sendiri sejatinya adalah memperingati berdirinya Pura.
Berawal dari pembangunan sebuah Pelinggih sederhana di sebuha lokasi yang jika umat berada di lokasi tersebut merasakan sebuah ketenangan dan keheningan yang luar biasa, lokasi tersebut itulah yang sekarang berdiri dengan megahnya sebuah pura Agung Jagatkartta.
Pembangunan di awali dengan sebuah Candi di lokasi yang di yakini sebagai petilasan Prabu Siliwangi, seorang raja yang mahsyur dan sangat di puja oleh masyarakat sunda, Tidak heran jika Pura Agung ini mengusung perpaduan antara Budaya Sunda dan Hindu.
Berawal dari pembangunan sebuah Pelinggih sederhana di sebuha lokasi yang jika umat berada di lokasi tersebut merasakan sebuah ketenangan dan keheningan yang luar biasa, lokasi tersebut itulah yang sekarang berdiri dengan megahnya sebuah pura Agung Jagatkartta.
Pembangunan di awali dengan sebuah Candi di lokasi yang di yakini sebagai petilasan Prabu Siliwangi, seorang raja yang mahsyur dan sangat di puja oleh masyarakat sunda, Tidak heran jika Pura Agung ini mengusung perpaduan antara Budaya Sunda dan Hindu.
Senin, 05 September 2011
Kelayang yang indah
-->
Deretan batu-batu raksasa menghiasi di hambir sebagian pantai yang ada di Tanjung kelayang ini, Pantai berpasir putih yang landai membuat pesonanya seolah menyihir siapapun yang mendatanginya. Sementara itu nyiur kelapa melambai-lambai seperti sedang riang gembira sudah tumbuh di negeri tropis yang indah ini.
![]() |
| Keindahannya mempesona |
Dieng Plateu, Affairs of the cloud
Dieng Plateu is located in the central highlands of Java, Indonesia.
it sits at 2,000m above sea level far from major population centres. The name "Dieng" comes from Di Hyang which means "Abode of the Gods"
Still learning how to make a good Travel Video. shoot by Canon 60D and canon G12. Music " Arrival of the birds " by cinematicorchestra.com
Enjoy this Video
it sits at 2,000m above sea level far from major population centres. The name "Dieng" comes from Di Hyang which means "Abode of the Gods"
Still learning how to make a good Travel Video. shoot by Canon 60D and canon G12. Music " Arrival of the birds " by cinematicorchestra.com
Enjoy this Video
Langganan:
Entri (Atom)














