Senin, 31 Oktober 2011

North Maluku, Rhtyhms of Spice Island

Gunung Gamalama
Menikmati perjalanan di pelosok-pelosok negeri memang membuat kita semakin cinta dengan tanah air tercinta. Itu sebabnya kenapa saya selalu penasaran akan keindahan-keindahan ataupun cerita-cerita seru apa yang  bakal saya bawa pulang dari sebuah perjalanan yang saya lakukan.


Seperti perjalanan singkat kali ini, meskipun hanya sekejap jika melihat beribu keindahan dan cerita seru yang saya dapatkan selama perjalanan itu sendiri. kenangan yang tertambat dalam hati terdalam saya sungguhlah sangat dahsyat sekali. keindahan bumi pertiwi ini seolah tidak ada habinya untuk di telusuri. cerita-cerita seru dari masa lampau juga semakin menambah daya tarik dari Indonesia itu sendiri.

Meski belum bisa menghasilkan sebuah tulisan maupun foto-foto yang dahsyat seperti yang di lakukan oleh sahabat-sahabat saya, namun saya senang sudah bisa berbagi cerita-cerita seru selama perjalanan yang saya lakukan. Masih sekedar jurnal dari seorang gembel yang akan merasa bahagis sekali jika sedang tersesat di keindahan alam negeri tercinta ini.

Berikut jurnal-jurnal kecil yang saya tulis selama perjalanan singkat menelusuri jejak keindahan di bumi Maluku Utara ini:


Selain cerita-cerita tersebut diatas saya juga merekam cerita seru itu dalam sebuah video, masih jauh dari sebuah travel video sebenarnya, cuma ya rasanya tertarik untuk mencoba sesuatu yang baru saja.


Dan dengan postingan ini kelarlah sudah cerita perjalanan di Bumi Maluku Utara. Semoga tidak bosan dengan cerita-cerita dari seorang gembel macam saya yang hadir di blog. Ucapan terima kasih juga tak henti-hentinya saya persembahkan kepada semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu namanya yang  sudah membantu acara kluyuran saya kali ini.

Jika boleh mengutip pepatah seorang sahabat yang sudah pernah menjelajahi maluku utara ini "lebih rela kehilangan Pacar daripada kehilangan Sinyal". Silahkan rasakan sensasi kehilangan sinyal hampir di seluruh wilayah ini. saya sudah merasakannya. Itu Sudah !!

Ternate, Pancaran keindahan dari masa lalu

amboy Nikmatnya
Jajaran gumpalan awan putih terlihat berarak dengan indahnya di atas puncak gunung Gamalama. Gunung yang menjadi kebanggan masyarakat ternate ini seolah tidak henti-hentinya untuk memancarkan pesona keindahannya.

Pelabuhan Dhufa-Dhufa
Setelah beranjrut-anjrutan di atas speed boat dari dermaga Jailolo selama hampir satu jam lamanya, tibalah saya di sebuah dermaga Dhufa-Dhufa di kota Ternate. Cuaca siang itu terlihat menyengat sekali, matahari seolah dengan semangat sekali untuk membakar bumi dengan sinarnya. Dermaganya sendiri terlihat sederhana, tidak ada kesan mewah ataupun modern sama sekali. Terlihat juga jajaran boat yang sedang menunggu antrian untuk menyeberangkan penumpangnya ke teluk Jailolo. Uniknya justru terlihat disini, masing-masing daerah dengan tujuan pulau Halmahera di berangkatkan dari pelabuhan yang berbeda di kota Ternate. Jika hendak mencapai daerah Sofifi maka kita akan berangkat dari Pelabuhan KotaBaru, berbeda jika kita hendak menjelejah Jailolo pelabuhan yang hendak kita tuju untuk menyeberang adalah pelabuhan Dhufa-dhufa. Lain lagi ketika kita hendak menyeberang ke pulau Tidore dan Maitara, pelabuhan yang disinggahi untuk kemudian menyeberang adalah Pelabuhan Bastiong. So jangan salah pilih pelabuhan jika hendak melanjutkan perjalanan dari kota Rempah ini.
Benteng Tolukko yang menawan
Amboy indahnyaaaa. Begitulah benak saya berfikir ketika berada di sebuah benteng yang terletak di atas bukit kelurahan Toloko. Letaknya yang diatas ketinggian memudahkan siapapun yang berada diatas Benteng untuk memantau aktifitas musuh. Dari atas benteng ini sendiri mata kita dimanjakan oleh panorama laut yang indah dan keindahan gunung Gamalama yang sudah tidak terbantahkan lagi. Ketika memasuki lokasi benteng nya sendiri hanya terlihat seperti sebuah taman kecil, namun ketika  sudah melewati lorong-lorong di dalam benteng, ternyata banyak sekali lorong-lorong yang mengarah ke ruangan bawah tanah plus anak tangga yang tidak dibatasi oleh pembatas. Kesan angker segera saya rasakan begitu berada di dalamnya. Sejatinya benteng yang di bangun oleh  Governor Jendral Francisco Serrao dari Portugis pada tahun 1512 ini di peruntukkan sebagai tempat peristirahatan putri-ptri Portugis dan tempat penympanan logistic, namun keberadaannya kini layak untuk dijadikan sebuah destinasi wisata jika kita berkunjung ke Kota ternate.
Rumah makan lezatos
Puas menikmati indahnya benteng Tolukko kok perut rasanya sudah protes untuk diajak melanjutkan peralanan ini. Dari keterangan salah seorang sahabat yang bermukim disana saya mendapatkan keterangan untuk mengunjungi sebuah pasar Gamalama jika hendak merasakan kulineran ala Ternate yang sesungguhnya. Saya hanya bisa membayangkan makan ditengah pasar dengan keramaian yang luar biasa dan bau-bau an yang menghilangkan selera makan. Namun keadaan berubah 360 derajat ketika kaki ini melangkah memasuki sebuah rumah makan sederhana namun lengkap di area pasar ini. “rumah Makan Popeda Gamalama” begitlah  tulisan yang saya baca di atas pintu rumah makan ini.  Cuma ada 3 meja di ruangan sempit itu yang membentuk huruf U. sebuah keluarga besar terlihat sedang asik menikmati  nikmatnya menu-menu yang tersaji memenuhi meja tersebut. Mereka terlihat berpakaian rapi sekali bahkan salah satunya masih mengenakan Toga. Ada apakah ini? Ternyata disana mempunyai sebuah tradisi untuk merayakan anggota keluarga yang lulus dari bangku kuliah dengan makan dan berdoa bersama, selain itu biasanya juga di gelar acara meriah sekali pada malam harinya di kediaman masing-masinng warga yang lulus kuliah tersebut. Baronggeng Namanya, sebuah acara yang biasanya di manfaatkan para muda-mudi untuk berekspresi dengam menari.
Menu yang ajaib enaknya
Menu yang tersaji dimeja juga beragam sekali. Terlihat sebaskom popeda (masyarakat Papua dan Ambon sering menyebutnya Papeda). Selain itu juga terlihat sayur lilin, sayur atau gulai yang tadinya membuat saya sumringah karena saya pikir itu adalah gulai telur ikan, karena bentuknya mirip sekali dengan telur ikan namun ternyata bukan. Terlihat juga Kuah soru yaitu kuah yang biasanya dipergunakan untuk makan popeda, dimasak bebarengan dengan ikan asar (ikan asap), rasanya sendiri asam pedas  dengan aroma ikan asar yang sangat kuat. Selain itu juga terlihat Kasbi(singkong rebus), pisang rebus, ubi rebus, ikan bakar, ikan goreng, fofoki kuah santan, sayur garo (tumis kangkung dengan bunga papaya). Diantara sebanyak itu menu makanan yang menarik perhatian saya adalah Gohu ikan. Gohu sendiri mempunya arti Rujak. Jadi menyebutnya haruslah lengkap Gohu ikan. Ini adalah sajian ikan mentah yang di lumuri dengan bumbu yang sudah dimasak. Rasanya menarik sekali pastinya. Saya mencoba sedikit terlebih dahulu takut tidak sesuai dengan perut saya, eh ternyata rasanya menakjubkan sekali. Tekstur ikan tuna merah mentah yang potong dadu ditambah dengan racikan bumbu-bumbu khas nya membuat sajian ini begitu segar sekali dimakan disiang hari. Menu Gohu ikan ini cocok sekali jika disantap dengan Kasbi, singkong rebus maupun ubi rebus. Sungguh masakan sehat yang layak di coba jika anda sedang berkunjung ke kota Ternate.
Pesona keindahan benteng Kalamata
Menurut kitab suci Lonely Planet saya, benteng Kalamata layak untuk dijadikan destinasi selanjutnya. Sebuah benteng yang namanya diambil dari nama seorang pangerang Ternate yang meninggal di Makasar. Saya tertarik mengunjungi benteng ini ketika sekilas melihatnya pada iklan sebuah produk minuman di tv swasta. Mamasuki area benteng terlihat sedikit tidak terawatt, padahal benteng ini mempunyai peranan penting dalam sejarah Ternate, yakni di benteng inilah dulu dilansungkan perjanjian damai antara sultan Khairun dan gubernur portugis saat itu Dieo lopes de Muspito, namun Portugis berkhianat dan membunuh sultan di benteng Kastela. Menikmati panorama indahnya pulau Tidore dan pulau Maitara dengan berdiri diatas pagar-pagar pembatas benteng memberikan sensasi keindahan tersendiri. Jiika kita melongok ke arah kota kita disuguhi aktifitas hilir mudiknya pelabuhan Bastiong. Tempat ini juga terkenal dengan panorama sunsetnya yang menawan, namun sayangnya waktus saya terbatas hingga tidak bisa membuktikan keindahan sunset dari atas benteng ini.
View from Floridas Cafe
Melewati sebuah restoran yang terletak diatas tebing rasanya sayang kalau tidak mampir. Meskipun perut masih penuh dengan menu dari rumah makan popeda di pasar Gamalama, namun sekedar menikmati segelas es kelapa muda dengan pemandangan ajaib indah apa salahnya. Floridas restaurant.  Terletak di Jalan raya Ngade/laguna, restoran ini memberikan pemandangan keindahan yang luar biasa. Dari balik meja-meja kecil di luar restoran ini kita bisa menikmati indahnya pulau Maitara dan pulau Tidore. Lautan berwarna biru membentang luas di hadapan saya. Awan juga terlihat berarak seolah sedang menarikan tarian keagungan Tuhan. Sungguh pemadangan yang luar biasa. Perjalanan kembali saya lanjutkan untuk memutari pulau Ternate ini menuju ke danau Tilore yang konon katanya bernuansa magis sangat kental. Namun kejadian tidak mengenak kan saya dapatkan. Sudah hampir separuh saya memutari pulau ini, namun ditengah perjalanan saya menjumpai jalanan di tutup oleh sebuah acara perhelatan. Tidak tahu acara apa itu namun yang pasti jalanan memutari pulau itu adalah satu-satunya, dan itu di tutup. DAMN..itu artinya saya harus kembali ke kota untuk memutar dari arah sebaliknya, pasti akan memakan waktu. Dari keterangan sahabat , kejadian itu sering terjadi jika salah satu penduduk sedang mengadakan sebuah pesta mereka pasti akan menutup  jalan dengan semena-mena.
Komplek kesultana Ternate
Jalan yang di tutup
Sebuah kebetulan lain saya dapatkan ketika saya melewati depan istana Ternate. Semula hanya bermaksud hendak memotret istana dari luar pagar untuk sekedar foto liputan saya. Namun ketika seorang petugas istana yang sedang asik bekerja di dalam pagar memanggil saya untuk masuk ke area dalam komplek istana rasanya kebetulan sekali. Saya masuk dari pintu kecil yang terdapat di samping gerbang utama istana. Istana nya sendiri masih terlihat kokoh berdiri di atas, dari depan istana kita bisa memandang ke lapangan (di Jawa sering disebut sebagai alun-alun) dan laut di depan istana. Beberapa gazebo juga terlihat rapi tersusun di sebuah taman di halaman istana. Pemandangan yang indah skelai sore itu rasanya.
Komplek Batu Hangus
Hari sudah semakin sore, dan menurut panduan dari kitabsuci saya LP saya harus mengunjungi sebuah lokasi batu hangus. Memasuki areanya sekilas seperti sebuah area pertambangan batubara, karena warna bebatuan ini benar-benar hitam legam menyerupai Batubara. Bebatuhan hitam legam itu sebenarnya berasal muntahan gunung Berapi Gamalama. Harus ekstra hati-hati ketika menaiki bongkahan-bongkahan bebatuan tersebut karena terlihat tajam-tajam sekali bentukannya.
Danau Tolire Besar
Danau Toliree Kecil
Sunset dari dekat danau Tolire kecil
Tidak jauh dari lokasi itu saya menjumpai  dua danau yang sangat fenomenal di Ternate. Danau Tolirere besar dan danau Tolire kecil.  Konon asal mula danau Tolire berasal dari sebuah cerita rakyat yang menyebutkan  katanya pada jaman dahulu kala  terdapat dua insan manusia yang masih terlibat dalam hungungan darah melakukan perbuatan asusila hingga mereka berdua terkena kutukan dan tenggelam di kedua danau tersebut, pantas saja ketika saya hendak melempar batu dan komat kamit make a wish  salah seorang terman berceloteh “lha ini itu danau kutukan kok malah make a wish” ha ha kami pun tergelak. Berdiri dari bibir danau melihat kebawah rasanya indah bin ngeri sekali. Karena menurut penduduk setempat  yang saya jumpai, hingga saat ini belum ada seorangpun yang  berani masuk kedalam danau Tolire besar ini. Dari lokasi ini saya juga puas menadang puncak gunung Gamalama yang terkadang batuk mengeluarkan asapnya. Sebuah kajian ilmiah juga pernah saya baca bahwa menurut sejarah geologi danau ini terbentuk  pada 1775 akibat gempa tektonik yang diikuti oleh letusan freatik gunung Gamalama. Tidak jauh dari danau Tolire besar ini, agak kebawah letaknya terdapat danau Tolire kecil. Sepertinya tempat yang cocok untuk menikmati sunset dari lokasi ini.

Pesona Sulamadhaha
Kopi Guraka dan pisang bulu bebek lengkap dengan sambel cocolnya
Segelas aer Guraka saya nikmati bersama gorengan pisang bulu bebek dan sambel cocolnya di area kawasan pantai Sulamadaha. Penasaran dengan kopi Guraka nya saya pun memesan segelas lagi kopi guraka. Aer Guraka sejatinya seperti wedang jahe, namun di Maluku utara ini dibuat dari jahe khas daerah ini, dan diatas nya ditaburi dengan pecahan-pecahan kacang kenari yang tumbuk kasar, begitu juga kopi gurakanya, kopi hitam dicampur jahe dan diatasnya di taburi pecahan-pecahan kacang kenari. Bagi anda yang gemar olah raga air bisa melampiaskan kegemaran anda di pantai ini. Bahkan jika air sedang surut terbentuklah beberapa mata air panas dari celah-celah bebatuan karang yang menyembul.  Pulau Hiri juga terlihat gagah dengan gumpalan-gumpalan awan yang ada diatasnya. Senja itu begitu damai terlihat di depan indera penglihatan saya. Gelap sudah mulai menyapa itu artinya saya harus bergegas kembali ke kota untuk beristirahat sejenak sebelum besok pagi harus  kembali ke rutinitas  yang begitu-begitu saja.
Malam di kota Ternate begitu ramai sekali, terlihat mudamudi memenuhi trotoar pinggir pantai. Kebetulan malam itu adalah malam minggu, malam dimana para muda-mudi biasanya memadu kasih. Saya tertarik untuk menyantap makan malam di sebuah café kecil tidak jauh dari tempat saya menginap. Memasuki ruangan makannya tidak ubahnya seperti panggung konser. Sebuah layar putih raksasa dibentangkan sebagai layar untuk menayangkan music-music karaoke. Dentuman dari sound system yang ada, rasanya juga membuat jantung hendak rontok. Rupanya sudah menjadi tradisi masyarakat sini untuk berkaraoke bersama keluarga di tempat-tempat seperti itu. Petualangan malam itu belum berakhir. Entah kenapa setibanya di penginapan rasanya saya tidak betah berada di ruangan tersebut, ada hawa magis yang begitu kuat rasanya berada di sebuah penginapan tua itu. Tidak mau malam saya sia-sia begadang sendirian di kamar kecil itu akhirnya sama mengirim sebuah pesan singkat ke seorang sahabat yang berdomisili di kota ini. “ikut ane aja yok gan ke baronggeng di dekat BTN”, begitulah pesan singkat yang saya baca di layar handphone saya. Sebenarnya saya juga tidak tahu apa itu baronggeng, namun hal baru pasti akan menarik.
Ronggeng sebenarnya adalah tarian yang ditarikan saat pesta. Ternyata sang empunya hajat adalah seorang warga yang anaknya habis mendapatkan gelar sarjana tadi siang, atau mungkin ini adalah sebuah keluarga yang saya jumpai di rumah makan popeda tadi siang? Entahlah.. Sound system sebesar lemari berjajar tertumpuk rapi di kedua sisi. Hentakan music seolah memanggil-manggil saya untuk segera ikut bergabung di lantai dansa sederhana tersebut. Permainan lampu juga terlihat seperti di sebuah dikotik betulan. Sebenarnya jika masih belum larut music yang di putar juga music yang agak sedikt slow beatnya, biasanya yang menari adalah seluruh anggota keluarga. Music akan berubah hingar bingar dengan hentakan-hentakan ketika jarum jam sudah menunjukkan dini hari, muda mudi terlihat asik banget menari dengan gayanya masing-masing. Tidak tahan berlama-lama akhirnya saya terjun juga ke arena dansa.

Semua bergembira sekali malam itu. “bos minum dulu neh, air ajaib khas Maluku” sahabat saya mengulurkan sebuah gelas yang ternyata isinya adalah Saguer, minuman khas tradisional Maluku. Sedikit meminumnya saja ternggorokan saya rasanya hampir terbakar. Tidak tau apa yang tercampur dalam gelas tersebut. Setelah menghabsiskan segelas saquer tersebut saya kembali bercengkrama dengan para penari-penari lain, hingga tidak terasa jam ditangan saya sudah menunjukkan pukul 4 dini hari. Artinya saya harus bergegas kembali ke penginapan mengemasi beberapa barang dan meluncur ke bandara untuk terbang dengan pesawat pagi ke Jakarta. Sungguh pengalaman singkat yang luar biasa menikmati indahnya bumi Maluku Utara meski hanya sebagian kecilnya. Hal ini membuat saya makin cinta dengan Indonesia dan semakin meneguhkan pikiran bahwa kita memang harus berkeliling, untuk melihat sesuatu yang beda dari biasanya dan menyelami keindahan Indonesia agar kita semakin bangga sudah lahir di bumi Indonesia ini.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Teluk Jailolo, Pesonamu Sesuatu Banget..

Pagi Menjelang di Teluk Jailolo
Berkali-kali dapat ajakan dari teman untuk mengunjungi daerah ini, namun baru sekarang  terlaksana. Sebenarnya sudah ingin sekali untuk bisa menjamah keelokan salah satu kabupaten di propinsi Maluku Utara ini. Daerah yang dua tahun terakhir menggelar Festival budaya ini memang layak menjadi destinasi tujuan berpetualang saya selanjutnya.

Jumat, 21 Oktober 2011

Morotai, Jejak peninggalan seorang MacArthur


Pulau Dodola yang menawan

Mendengar namanya saja saya masih merasa asing hingga sekarang, bahkan dulu  di pelajaran geografi kalau tidak salah ingat saya juga tidak pernah medengarnya. Tapi mungkin sudah menjadi kehendak Tuhan hingga akhirnya saya bisa menginjak kan kaki di pulau indah yang pernah Berjaya pada jaman perang dunia sebagai basis kekuatan Sekutu  ini.

Kamis, 20 Oktober 2011

Halmahera, Sofifi-Tobelo tanpa Rem

-->
Dermaga Pulau Kumo
Deretan mobil-mobil keluaran terbaru seperti Jazz, inova, xover, rush dan masih banyak lagi lainnya terlihat berbaris di area parkir pelabuhan Sofifi pulau Halmahera. Benak saya berfikir "oh sungguh kayanya pulau ini hingga mobil-mobil bagus seperti itu bisa berada disana. Namun tidak selang berapa lama mata saya dibuat kembali terbelalak lagi karena mobil-mobil keluaran terbaru itu ber plat nomer polisi warna kuning. Ternyata mobil-mobil itu dipergunakan sebagai angkutan umum yang mengantarkan penumpang ke segala penjuru pulau Halmaera ini.

Tersesat di Ciseeng

-->
Jacuzi murah meriah mewah

Gara-gara me-replay postingan nya seorang sahabat lama di wall nya dia tentang lokasi Cise’eng dimana, eh malah ketempuhan jadi tukang ojeknya dia untuk mengantarkan nya ke lokasi tersebut ha ha, walaupun  akhirnya jadi sebuah petualangan seru.
Walaupun sudah  24jam melaksanakan tugas sebagai seorang kuli dan sedikit capek bercampur ngantuk akhirnya saya terima tantangan dari Marley, seorang sahabat ngeluyur dari jaman dahulu kala untuk mengeksplore beberapa lokasi pemandian air panas yang ada di beberapa lokasi di daerah Ciseeng.

Minggu, 09 Oktober 2011

Waktu itu..

-->
waktu itu...
Cerita in berawal ketika aku pertama kali menginjakkan kakiku di pulau Sumatra, tepatnya di pedalaman propinsi Jambi, di sebuah kawasan transmigrasi, SP-D itu lah nama desa kami, yang penduduknya apabila mau ke pasar kecamatan saja harus rela berjalan kaki melewati hutan dan sungai selama lebih dari 2 jam. Cara Lain bisa juga dengan menumpang truk pabrik yang sering lewat situ. Cuma sekali sehari dengan jadwal berangkat jam 6 pagi. Namu kepabanyakan dari penduduk lebih memilih berjalan kaki, hal ini dikarenakan waktu tempuh. Jika kita menaiki truk harus memutar jalan, hingga waktu yang di butuhkan adalah 5 jam, lebih lama 3 jam dari jika berjalan kaki. Untuk mencapai pasar Pemenang tersebut para penduduk juga harus melewati ganasnya sunga Batanghari dengan menumpang pada sebuah perahu. sementara perahu itu sendiri beroperasi dengan bertumpu  pada seutas tali yang melintang dari diantara dua sisi pinggiran sungai. Bahkan sempat pula terpikirkan olehku, bagaimana jika tali itu putus, sementara arus di sungai Batanghari sendiri sangat tidak terduga.

Jumat, 07 Oktober 2011

Dieng Plateu, Affairs of the cloud

Menikmati Sunrise dari puncak Cikunir
“bukannya kalau libur lebaran gini para pembatik nya juga ikut libur” kata-kata yang keluar dari mulut kakak saya dari belakang kemudi itu sontak membuyarkan lamunan akan pengalaman menarik mengksplorasi batik Lasem dan menu sejarah kotanya yang sangat legendaris itu. Benar juga celetukan dari kakak saya tersebut, karena sekarang ini musim lebaran masih berlangsung, kalender di jam tangan saya juga masih menunjukkan hari ketiga Lebaran, jadi kemungkinan besar para pembatik nya juga masih merayakan hari kemenangan itu di rumah mereka masing-masing.

Minggu, 02 Oktober 2011

a Walk at Braga Festival 2011 by mBi

Sebuah Video dari sahabat saya Febian Nurahhman Saktinegara ato sering di panggil mbi tentang sebuah festival yang menjadi Agenda tahunan Kota Kembang bandung, Braga Festival 2011. Festival yang di gelar di ruas Jalan Braga ini menyita perhatian banyak sekali masyarakat.

Animo penikmat Seni di kota ini bisa di acungi jempol. Hasil hunting bareng dengan kang mbi yang hampir gagal karena saling tunggu yang hampir berjam-jam gara-gara komunikasi BBM ngadat sengadat-ngadatnya. Terimakasih Mbi sharing ilmunya akan sangat berguna sekali bagi saya, dan senangnya lagi saya di daulat sebagai model timelapse wkwkwkwk.