![]() |
| Ende pagi hari |
Ojek melaju membelah kota Ende, saya hanya bisa menahan beban carrier segede gaban di gendongan dan sebuah tas kamera di depan saya. Sudah seperti anak durhaka yang di usir ibunya dah kalau melihat saya kala itu ha ha. Tujuan saya kali ini adalah sebuah terminal Ndao. Karena dari terminal inilah biasanya bis-bis yang melayani rute antar kota di pulau Flores ini bertolak.
"kalau bisa jam 6 pagi sudah ada di terminal Ndao bang, soalnya biar bisa milih tempat duduk di depan, supaya bisa sambil motret sepanjang perjalanan"
Yess, karena petuah dari encim aka Tuteh inilah saya dan Echi rela check out dari hotel Flores ketika matahari aja masih terlelap dalam tidurnya. Dan demi mendapatkan kursi depan dari bis Damri saya harus rela bangun pagi-pagi sekali.
Hanya ada dua bis yang terparkir di tepi jalan ketika tukang ojek menurunkan saya pagi itu. Saya sedikit bingung ini terminal kok di pinggir jalan ya, Apakah saya sedang di jebak ke dalam sindikat penjualan manusia? ha ha kenapa pikiran saya jadi suka lebay seperti ini ya sekarang.
Setelah bertanya ke seorang bapak dengan seragam Damri disamping bis, barulah saya mendapatkan keterangan, ternyata terminalnya sendiri ada di samping SPBU yang ada di seberang jalan, dan dari beliau pula saya mendapatkan sebuah berita buruk, ternyata bis Damri yang biasanya melayani rute Ende-Riung hari ini tidak beroperasi karena sedang menunggu spare part ban yang sedang rusak. "Oh Tuhann derita apalagi ini" upsss kelebayan lagi ya ha ha.
"Naik bis ini saja dek, nanti dari mbay kamu nyambung pakai bemo"
Solusi yang masuk akal saya pikir. Saya hanya bisa menikmati semua yang ada di depan saya saja kali itu. Bukankah ini sebenarnya yang saya cari, esensi dari sebuah perjalanan adalah proses perjalanan nya itu sendiri.
Segelas kopi dan se cangkir Pop mi saya nikmati sambil memandang laut yang ada di depan saya. Semburat cahaya dari pantulan matahari terbit sudah mulai nampak. Laut terlihat tenang sekali pagi itu. Bukit-bukit dan liukan pantai pasir hitamnya seolah bercerita dan menghibur saya dengan apa yang sedang saya alami saat ini.
![]() |
| Bis Damri yang melayani rute Ende-Mbay |
Tak selang beberapa saat setelah matahari mulai menampak kan dirinya, pak supir sudah memanggil saya untuk segera naik ke dalam bis. Tidak terlalu banyak penumpang pagi itu. Hanya ada beberapa guru dan para ibu yang hendak pergi ke pasar. Saya berkoordinasi dengan echi tentang pembagian tempat duduk. Bis Damri ini adalah bis kecil, jadi jangan membayangkan seperti bis Damri yang melayani rute ke Bandara ya sobat, sebesar Kopaja lah mungkin. Jadi bangku disamping supir hanya satu, dan saya berniat untuk duduk disana sambil memotret sepanjang perjalanan, dan Echi menyetujuinya. Perjanjian kami adalah bergantian tempat duduk nantinya supaya sama-sama merasakan duduk di samping pak supir yang sedang bekerja ha ha.
![]() |
| Bis Sekolah |
Ketika sedang asik menikmati pemadangan di sepanjang perjalanan, tiba-tiba dari bangku belakang ada kegaduhan. Ternyata ada seorang nenek yang hendak turun di pasar yang sudah kami lewati tadi, artinya dia terlewat dari tujuan semulanya ke pasar tersebut. Tanpa pikir panjang sang supir memutar bis kembali kearah pasar mengantarkan sang nenek, dan semua penumpang di dalam bis terlihat asik-asik aja, artinya rasa tenggang rasa dan saling membantu di daerah ini masih di pelihara dengan baik. Saya mendapatkan pelajaran berharga lagi dari perjalanan kali ini.
Mereka terlihat asik bersendau gurau di atas truk, ada yang terlihat sedang membicarakan sesuatu, dan ada pula seorang perayu yang sedang melancarkan jurusnya untuk menakluk kan sang pujaan hati #eaaa. Mereka terlihat gembira ketika saya mengarahkan kamera poket untuk memotret mereka. Kebetulan posisi bis berada tepat di belakang truk ini.
![]() |
| Perbaikan Jalan |
![]() |
| Sesaaat menjelang masuk Mbay |
Pemberhentian terakhir bis ini adalah di terminal Mbay. Setelah mengucapkan terima kasih ke bapak sopir saya bergegas turun sampil mengambil tas carrier saya di bagasi bis. Duduk sejenak di ruang tunggu penumpang terminal ini. Di belakang terminal ini adalah pasar tradisional. Setelah bertanya ke bapak yang berseragam dinas perhubungan saya mendapatkan informasi tentang bemo yang melayani rute Mbay-Riung.
![]() |
| Si Satria, dengan bemo ini saya harus menempuh perjalanan selama hampir 3jam |
"naik Satria ya pak" pertanyaan yang membuat saya bingung.
Ternyata oh ternyata Satria adalah nama dari bemo yang akan saya tumpangi ke Riung nantinya. Supirnya terlihat ramah dan lucu sekali orangnya. setelah memasukkan barang bawaan ke dalam bemo saya berpamitan kepada pak supir untuk makan siang dulu di warung Padang yang ada di seberang terminal. Hampir semua warung Padang di Flores sama ternyata masakannya. Sedikit berbeda dengan keberadaaanya di kampung asalnya sana. Tapi ya lumayan lah untuk mengganjal perut yang dari pagi hanya di isi sebuah pop mi.
Belum juga kelar makannya si "satria" sudah menghampiri saya di warung padang tersebut. Secepat kilat saya menghabis kan makanan yang ada di meja, dan bergegas membayarnya lalu naik ke dalam bemo. Dan yang membuat saya jengkel adalah, ternyata setelah menjemput saya di rumah makan si "satria" masih ngider berkeliling mencari penumpang dan mengambil beberapa titipan dari toko-toko yang ada di Riung. Tapi asli sang supir sungguh bersahabat dan lucu sekali orangnya. Sepanjang perjalanan beliau selalu meracau bercerita tentang daerahnya. Dulu dia pernah jadi supir di Surabaya dan Ende, namun panggilan kampung mengaharuskan dia kembali ke Riung supaya dekat dengan keluarga.
Keluar dari Mbay si "satria" disambut dengan jalanan yang rusak parah sekali. Lubang-lubang besar menganga siap menerkam mangsanya. Lapisan aspal yang dulu bagus sudah tidak terlihat sama sekali. Kalau hujan tentu akan sulit sekali melalui jalanan ini. Hampir 10km jalanan seperti itu harus kami lalui. Para mama di belakang masih terlihat asik-asik aja, bahkan diantaranya malah ada yang bernyanyi dengan riangnya. Sungguh lugu sekali masyarakat disini. Mereka menikmati semua yang ada di depannya. Walaupun jalanan rusak separah itu mereka masih bisa berdendang dengan asiknya.
![]() |
| Satria berhenti mempersilahkan saya memotret di siang terik |
"Itu gunung Robert namanya bang" saya hanya bisa mengangguk sambil buru-buru menjepretkan kamera poket saya. Sebenarnya lama juga tidak apa-apa, para mama di belakang juga masih terlihat asik - asik saja. Yang membuat saya bergegas adalah panas nya. Panasnya begitu menyengat sekali.
![]() |
| Gunung Robert di Mbay |
Selepas melewati gunung Robert saya tepar dengan manisnya di samping pak supir. Seolah baru saja terlelap sudah ada yang membangunkan saya, dan si Satria sudah hampir berhenti. Namun saya sudah terlanjur mengantuk sekali, dan jika di bangunkan mendadak seperti itu kepala makin puyeng. Namun akhirnya saya menyesal karena saya di bangunkan ketika si "satria" sampai pada sebuah tempat yang dari tempat itu kita bisa mamadang ke tujuh belas pulau yang ada di taman wisata laut Riung 17 pulau, ya sudahlah.
Riung 17 pulau, Sebuah Taman Wisata Laut yang indah dan damai.
Sampai di Riung, si "Satria" mengantarkan saya sampai ke Nirvana bungalow. Hanya ada beberapa penginapan di kawasan Riung ini. Salah satu yang menjadi favorite bule jika mengunjungi Riung adalah Nirvana Bungalow ini. Di kelola oleh seorang anak muda yang asik. Bang Rustam namanya. Rambut gondrong nya menjadi ciri khas dari pemuda asli Flores ini. Bangunan dari penginapan idola para bule ini sederhana sekali, hanya berdinding anyaman bambu. Tidak ada fasilitas mewah apapun di dalam kamar. hanya sebuah tempat tidur dengan sebuah kelambu menutupinya. Kamar mandi berada di dalam kamar. Semuanya terlihat menyatu dengan alam dan BERSIH sekali. semua tertata dengan rapi. Salut buat Nirvana Bungalow.
Ketika saya sampai Beliau sedang mengantarkan tamu bule nya menjelajah keindahan dari Taman Wisata Laut Riung 17 pulau ini. Namun dia sudah mencarikan kapal pengganti untuk saya. Karena siang itu saya akan langsung turun ke laut mengeksplore keindahan disana.
Setelah meneguk sedangkir kopi Flores yang menjadi Welcome Drink di bungalow ini saya bergegas mempersiapkan segala sesuatunya untuk turun ke laut. Echi diantar terlebih dahulu menuju dermaga, sedangkan saya menjadi orang kedua yang diantarkan oleh pengurus Bungalow.
![]() |
| Narcis boleh donggg ha ha |
![]() |
| Bersiap mengarungi keindahan Riung |
"Kemana dulu neh pak?"
Pertanyaan saya yang membuat pak Bedu akhirnya bercerita. Dia menyarankan kepada kami untuk mengunjungi pulau Kalong terlebih dahulu, baru snorkling di pulau tiga dan mampir ke pulau Rutong untuk berfoto-foto. Biasanya memang jalur trip nya seperti itu.
![]() |
| Pulau Kalong Taman Wisata Laut 17 Pulau Riung |
Sampai di pulau kalong saya kembali di suguhi sebuah fenomena yang luar biasa. Ribuan "batman" itu asik bergelantungan di ujung-ujung pohon bakau. Beberapa juga terlihat asik beterbangan. Lho bukannya Kalong adalah hewan yang berkatifitas di malam hari, kenapa disini siang hari juga mereka terlihat asik beterbangan kesana-kemari. Ada hal lucu ternyata jika saya ingat kejadian itu, Echi yang menjadi travelmate saya kali ini sibuk memotret dengan menggunakan handphone miliknya. Ternyata dia lupa membawa kamera DSLR nya kali ini ha ha. Kamera nya masih tertinggal di dalam penginapan ketika perahu sudah melaju di lautan Riung.
![]() |
| Pulau Kalong dengan Fenomena Batman nya |
![]() |
| Underwater pulau Tiga |
![]() | |||
| Pulau Tiga |
![]() |
| Pulau Rutong |
![]() |
| Rutong yang mempesona |
![]() |
| Bening nya Rutong |
Perahu tetap malaju dengan deru mesin yang seolah berteriak-teriak karena lelah. Namun pak Bedurahing tetap memacu perahunya supaya cepat sampai di dermaga Riung. Niatan saya adalah menikmati sunset di Riung, tapi mendung menutupi indahnya sunset sore itu.
Menjejak kan kaki kembali di dermaga membuat saya seolah tidak percaya. Taman wisata laut ini begitu indah. Namun sayangnya belum di kelola secara maksimal. Namanya saja taman wisata laut, tapi penyedia jasa operator selam belum terlihat di kawasan ini. yang tersedia hanya penyewaan alat snorkling saja. Menurut pak Bedu mereka kalau mau diving biasanya pada bawa kapal sendiri dari Bali mas, jadi setelah dive mereka akan kembali lagi ke Bali. Tentu hal ini akan lain bila di kelola dengan baik oleh pemerintah setempat. Sarana transportasi menuju ke lokasi ini juga sangat terbatas, belum lagi kerusakan jalan yang ada membuat orang enggan untuk berkunjung ke Taman laut yang indah ini.
"Bang bis ini besok ke Bajawa kah?"
Tanya saya kepada seorang supir bis yang sore itu hendak memutar bis nya di area dermaga.
"Iya, kalian nginap dimana?"
Pertanyaan balasan yang dia lontarkan kepada saya.
"Nirvana bang, tempat bang Rustam" jawab saya.
"Ok, besok pagi jam 06:30 saya jemput di Nirvana ya" sambil membalas pertanyaan saya, dia sudah kembali memacu bis nya dengan kencang meninggalkan kami. Sore itu ada sekelompok anak kecil sedang asik bermain di bawah pohon kersen (semacam Cherry lokal).
![]() |
| Sepertinya asik neh tinggal beberapa hari di rumah ini |
![]() |
| Berpagar Kelapa Baris |
Saking asiknya menikmati keindahan yang tercipta saya sampai lupa jalan pulang ke bungalow. Terlihat di depan saya seorang bapak-bapak yang sedang membereskan depan rumah nya. Dari beliau lah saya tau jalan pulang ke penginapan. Sebenarnya tidaklah susah untuk menemukan Nirvana Bungalow. Namun karena malas membuang energi percuma dengan tersesat di saat badan sudah letih dan lapar seperti ini, saya harus secepatnya sampai di penginapan.
Malam di Riung
Malam Menjelang, bang Rustam selaku pemilik bungalow Nirvana yang asik ini menawarkan kepada kami untuk makan di warung makan Murah Meriah. Pikiran saya itu adalah sebuah warung dengan harga yang murah dan terjangkau, tetapi setelah berada di dalam warung saya baru tahu kalau nama Resto rumahan ini adalah "Murah Meriah". Semangkuk sup ikan terlihat lezat sekali terhidang di depan saya. Tak kuasa rasanya perut ini bertahan lama-lama didalam sebuah gempuran aroma dahsyat dari sup ikan segar itu. Tidak tahu berapa piring dan berapa mangkuk yang masuk kedalam perut saya malam itu, yang jelas saya kenyang sekali ha ha. Dan dahsyat nya lagi sobat, itu semua makanan GRATIS di traktir oleh kang Rustam yang baik hati dan murah senyum itu ha ha. Terima kasih banyak kang, you know hal terindah bagi seorang pejalan seperti saya adalah dapet gratisan ha ha.
Setelah sampai di penginapan saya mencoba mencari informasi tentang Labuhan Bajo dan pulau Komodo. Karena trip flores ini dadakan jadi saya tidak mempersiapkan informasi apapun tentang destinasi-destinasi yang akan saya kunjungi. Tiba-tiba terlintas dalam fikiran saya tentang casing underwater kamera saya. Damn...dimana ya tuh barang berada? semua tas dan seisi kamar sudah saya bongkar dan saya tidak menemukannya. Saya masih terngiang tentang kejadian tadi sore. Disaat saya bertanya kepada supir bis yang akan ke Bajawa saya kalau tidak salah meletakkan nya di bawah pohon kersen. Selepas itu saya tidak ingat lagi tentang barang itu, apakah sudah saya bawa pulang ke penginapan atau masih disana.
saya berusaha membangunkan bang Rustam untuk menemani saya mencari casing kamera saya di dekat dermaga. Keponakan beliau mengantarkan saya ke lokasi dermaga. Setelah mencari ke titik awal saya meletakkan barang tersebut ternyata tidak ada. Saya sudah putus asa, bayangan keindahan bawah laut pulau Komodo tentu tidak akan bisa saya rekam ke dalam memori kamera saya tanpa casing tersebut. Saya tak habis pikir, mencoba menelepon bapak Bedurahing di tengah malam untuk menanyakan perihal barang tersebut, kali aja tertinggal di kapal nya ketika saya terlupa. Alhamdulillah jawaban dari istrinya menentramkan diri saya.
"ini tadi di bawa bapak jam sebelas mas, pas dia pulang dari melaut, kata bapak melihat barang itu di bawah pohon kersen dan dibawa kerumah. ini mau diantar ke penginapan tidak ada kendaraan"
Yes terima kasih Tuhan. Setelah hampir tertinggal di dalam Bemo dari Mbay dan hampir hilang di Riung ternyata si casing masih memilih saya untuk menjadi teman berpetualang mengabadikan keindahan bawah laut Indonesia. Setelah berpamitan dan berterima kasih kepada beliau saya kembali ke penginapan dengan tak habis-habisnya mengucap syukur. Ternyata masyarakat disini masih memegang teguh kejujuran, suatu hal yang jarang saya dapatkan di kota besar. Dan tidak memerlukan waktu lama lagi akhirnya saya terlelap di dalam Nirvana Bungalow yang nyaman serta dalam pelukan Riung yang damai.
***
Beberapa Keindahan Riung yang terekam di kamera saya.
![]() |
| Masih Sesi keindahan pulau Rutong |
![]() |
| Saya ingin mencoba sensai naik diatas itu belum kesampean |
![]() |
| Multifungsi, bisa buat penumpang dan semuanya |
![]() |
| Underwater pulau Tiga |
![]() |
| Kelambu di kamar |
![]() |
| Masih di Pulau Tiga |





























Ah, petualangan yang mengasyikkan...
BalasHapusHa ha ha.. Kapan ngajak saya ke Kolbano kang :)
BalasHapussemua pantai punya keunikan masing-masing salah satunya kolbano yang bener-bener mudah di jangkau dari kosan ku.. :)
Hapusthis is great adventure!!!...with full information and nice pics as well!!
BalasHapusTerima Kasih Kang Faisal, tapi aku belum bisa buat film dsini sebagus dirimu :)
BalasHapusSaya mengira Flores itu adalah daerah pedalaman yang tidak terlalu maju, nyatanya sudah ada Damri yang pake armada mirip dengan punya TransJogja.
BalasHapusBTW, yang bagus dari cerita ini adalah gambar Gunung Robert di Mbay, kalong terbang, sama kaos NatGego-nya :)
FLores itu sudah maju meski masih ada beberapa sudut yang tertinggal dari pesatnya pembangunan, dan FLores juga bukan daerah gersangs eperti yang selama ini dikabarkan, saya malah melihat FLores yang Segar dengan hijaunya.
BalasHapusSy pernah ke Riung, disana ada seorang Pastor dr Eropa tapi sdh WNI yg mengabdi. apakah beliau masih disana?
BalasHapusJadi teringat pas nginap di Riung pake kelambu...banyak nyamuk yah..he he he
BalasHapus