Senin, 22 Oktober 2012

Lampung, damainya pagi di pulau Kelagian (part 3)


Pagi yang mendung di Kelagian
Hawa dingin tiba-tiba terasa menusuk tulang. Saya baru sadar ternyata saya ketiduran di dalam buaian hamock. Angin laut yang bertiup sangat kencang pagi buta itu sontak membangunkanku dari buaian Hamock yang nyaman. Mau beranjak dari hamock mengambil sleepingbag di tas carrier saya yang tertimun oleh tumpukan-tumpukan tas tas lain rasanya enggan sekali. Alhasil saya hanya mengatupkan kedua sisi hamock sehingga seperti berada dalam kepompong, dan alhamdulillah saya merasa sedikit hangat.

Lampung, Keindahannya Tak putus di TanjungPutus (part 2)


Jernihnya perairan pulau Kelagian

Ayam Jantan masih terdengar berkokok ketika saya terbangun dari tidur. Mungkin karena lelah yang mendera hingga saya agak kesiangan bangu. Padahal rencana semula hendak menikmati sunrise di pantai Klara. Tapi apa daya.

Celotehan seorang bocah kecil mengusik indera pendengaran saya. Ternyata berasal dari om Doddy Junior. Bocah imut itu terlihat asik memberi makan ayam di depan pintu rumah. Menyebut kata ayam saja belum jelas, tapi tingkah polahnya bisa membuat saya tergelak melihatnya.

Setelah menghabiskan menu sarapan yang terhidang di meja, saya segera berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.

Minggu, 21 Oktober 2012

Lampung, Sambutan Kopi Lampung di tengah malam. (part 1)


Mampir Makan siang di Serang
"Antaro merak jo bakauheni, antaro sabak jo gadang hati, den tinggakan kampuang nan denai cinto, dek harok kabatuka untuang jo parasaian"

Lirik lagu dari daerah Sumatra Barat itu seolah terngiang kembali ketika saya duduk di salah satu sudut kapal ferry yang menyeberangkan saya dari tanah jawa menuju pulau Sumatra ini.

Hal serupa juga saya rasakan belasan tahun yang lalu ketika pertama kalinya saya harus pergi merantau meninggalkan segala kesenangan di kampung halaman demi sebuah harapan baru di pulau Sumatra.